CARA MEMPERBAIKI TINGKAH LAKU GURU DALAM MENGAJAR

Dalam memperbaiki tingkah laku guru dalam mengajar guru dapat memperbaiki tingkah lakunya dengan cara melihat dan memahami faktor-faktor yang penting yang paling berpengaruh dalam pembentukan perilaku guru dalam mengajar. Hal-hal yang harus diperhatikan dan difahami supaya guru dapat memperbaiki tingkah lakunya dalam mengajar antar lain :
1. Memahami Kebutuhan dan Motivasi guru
Kebutuhan merupakan suatu situasi kekurangan dalam diri individu yang mendorongnya untuk bertingkah laku untuk mencapai tujuan. Dalam hubungan dengan jabatan guru, tingkah laku pada dasarnya didorong oleh kebutuhan para guru itu. Menjadi guru, pada dasarnya adalah upaya memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang ada dalam diri guru telah mendorongnya untuk bertingkah laku sebagai guru. Apabila kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan tingkah laku sebagai guru maka ia akan memperoleh kepuasan. Sebaliknya, guru akan mengalami kekecewaan dalam tugasnya sebagai guru apabila kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi. Jenis dan kualitas kebutuhan guru akan mendorong guru untuk melakukan tingkah laku keguruan.
Dengan mengikuti pandangan A.H. Maslow, ada lima tingkatan kebutuhan manusia, yaitu
a) Kebutuhan fisik atau jasmaniah,
b) Kebutuhan memperoleh keselamatan,
c) Kebutuhan sosial atau kebutuhan berhubungan dengan orang lain di lingkungan,
d) Kebutuhan memperoleh harga diri, dan
e) Kebutuhan mewujudkan diri.
Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan peringkat-peringkat yang saling berkaitan. Dalam hubungan dengan jabatan guru, peringkat kebutuhan itu akan mendorong guru untuk melakukan tingkah laku keguruan. Tingkah laku guru pada dasarnya merupakan upaya dalam memenuhi peringkat kebutuhan-kebutuhan tersebut. Penting bagi guru ialah agar senantiasa memiliki motivasi yang kuat dalam mewujudkan tingkah laku keguruannya. Dengan motivasi yang kuat maka guru akan bertingkah laku lebih baik sehingga dapat membantu proses perkembangan siswa. Keberhasilan guru dalam melakukan tugasnya akan memberikan kepuasan kerja bagi para guru. Banyak faktor yang ikut mempengaruhi pencapaian kepuasan kerja para guru. Dari beberapa penelitian diperoleh informasi beberapa faktor yang ikut mempengaruhi kepuasan kerja guru, antara lain sebagai berikut :
a) Imbalan kerja, atau sesuatu yang diperoleh dari melaksanakan tugas sebagai guru, baik imbalan yang berupa material ataupun nonmaterial. Pada umumnya guru merasakan memperoleh kepuasan kerja dari imbalan yang diterimanya.
b) Rasa aman dalam pekerjaan, pada umumnya guru merasakan adanya keamanan lahir ataupun batin dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, mereka merasakan adanya kepuasan kerja.
c) Kondisi kerja yang baik, guru-guru merasakan adanya kepuasan kerja karena pada umumnya kondisi kerja guru lebih baik dari kondisi kerja yang lainnya.
d) Kesempatan pengembangan diri, guru-guru merasa puas karena dalam tugas sebagai guru banyak memperoleh kesempatan untuk memperluas dan mengembangkan diri untuk kepentingan di masa depan.
e) Hubungan pribadi, kepuasan kerja guru antara lain juga karena dalam pekerjaan sebagai guru banyak kesempatan untuk membina hubungan pribadi terutama dengan siswa.

2. Memahami Kompetensi Guru
Agar peranan dan tugas guru sebagaimana dikemukakan di atas dapat terwujud dengan sebaik-baiknya maka hal yang paling inti adalah terletak pada penguasaan kompetensi guru. Kompetensi adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan penampilan unjuk kerja sebagai guru secara tepat. Hal ini berarti bahwa kualitas unjuk kerja professional seorang guru akan ditentukan oleh kualitas kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi yang dimaksud adalah mencakup kompetetnsi intelektual, fisik, pribadi, social, dan spiritual.
a) Kompetensi intelektual, adalah berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk menunjang berbagai aspek unjuk kerja sebagai guru professional.
b) Kompetensi fisik, adalah kemampuan fisik yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan perangkat tugas-tugas guru.
c) Kompetensi pribadi, adalah perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri. Kompetensi pribadi mencakup kemampuan-kemampuan dalam :
 Memahami diri, yaitu bagaimana mengenal berbagai aspek diri sendiri, seperti kekuatan dan kelemahan diri, minat, bakat, motif, kebutuhan, perasaan, nilai, dan tujuan diri.
 Pengelolaan diri, yaitu bagaimana memanfaatkan aspek diri secara tepat dalam meemcahkan masalah.
 Pengendalian diri, yaitu bagaimana mengatur dan membuat keputusan secara tepat.
 Penghargaan diri, yaitu bagaimana memperoleh dan mempertahankan harga diri.
d) Kompetensi sosial, adalah perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar bagi pemahaman diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial secara objektif dan efisien. Kompetensi sosial ini mencakup perangkat perilaku yang menyangkut kemampuan interaktif dan keterampilan memecahkan masalah.
e) Kompetensi spiritual, adalah pemahaman, penghayatan, serta pengamalan kaidah-kaidah agama dalam aspek kehidupan.
Penguasaan kompetensi-kompetensi tersebut akan saling berkaitan dengan lainnya dan akan terwujud dalam penampilan unjuk kerja sebagai guru professional. Oleh karena itu, masing-masing unsur kompetensi tersebut hendaknya dimiliki secara proposional dan terbentuk secara professional.
3. Memahami Peran Guru Dalam Mengajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, guru memegang peranan yang paling utama. Tingkah laku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan tingkah laku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, perilaku guru hendaknya dapat dikembangkan sedemikian rupa agar dapat memberikan pengaruh yang efektif.
Peranan (role) guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peranan yang luas baik di sekolah, di dalam keluarga maupun di masyarakat. Di sekolah ia berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran siswa, pengarah pembelajaran, dan sebagai pembimbing siswa. Di dalam keluarga guru berperan sebagai pendidik keluarga atau family educator. Sedangkan di masyarakat guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), pendorong masyarakat (social motivator), pembaharuan masyarakat (social inovator), dan sebagai agen masyarakat (social agent). Guru yang baik dan efektif ialah guru yang dapat memainkan semua peranan-peranan itu secara baik.
 Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, lebih jauh guru dapat berperan sebagai :
1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan.
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa.
3. Suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
4. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu ia menguasai bahan yang harus diajarkannya.
5. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar siswa-siswa melaksanakan disiplin.
6. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
7. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan siswa sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan, serta penerjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
 Dipandang dari segi dirinya pribadi (self-oriented), seorang guru dapat berperan sebagai :
1. Pekerja social (social worker), yaitu seseorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat.
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu sesorang yang harus senantiasa belajar secara terus-menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya.
3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua di sekolah bagi setiap siswa.
4. Model keteladanan, artinya guru adalah model tingkah laku yang harus dicontoh oleh siswa-siswanya, dan
5. Pemberi keselamatan, artinya guru senantiasa memberikan rasa keselamatan bagi setiap siswanya. Siswa diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
 Dari sudut pandangan secara psikologis, guru adalah sebagai :
1. Pakar psikologi pendidikan, artinya seseorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
2. Seniman dalam hubungan antarmanusia (artist inhuman relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antarmanusia khususnya dengan siswa-siswa agar mencapai tujuan pendidikan.
3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu membentuk menciptakan kelompok da aktivitas-aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Catalytic agent atau inovator, yaitu orang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan dalam membuat suatu hal yang lebih baik.
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para siswa.
Seperti telah dikemukakan di atas, guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Guru dituntut harus mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif dalam diri siswa/pelajar. Di samping itu, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi pembelajaran agar siswa mampu mewujudkan kualitas perilaku belajarnya secara efektif. Guru juga harus mampu menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. Guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas belajar para siswa dalam bentuk kegiatan belajar yang dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif, dan dan pekerja yang produktif. Dalam hubungan ini, guru memegang peranan penting dalam mencipatakan suasana pembelajaran yang sebaik-baiknya. Diantara peran-peran guru itu ada 5 peran yang penting sebagai guru dalam mengajar, yaitu :
 Sebagai Perancang Pembelajaran (designer of instruction), guru diharapkan mampu untuk merancang kegiatan pembelajaran secara efektif dengan suasana yang kondusif bagi siswa.
 Sebagai Pengelola Pembelajaran (manager of instruction), seorang guru akan berperan mengelola seluruh proses pembelajaran dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar agar setiap siswa dapat belajar secara efektif dan efisien.
 Sebagai Penilai Hasil Belajar Siswa (evaluator of student learning), guru dituntut untuk berperan secara terus-menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang dicapai oleh sisiwa dari waktu ke waktu.
 Sebagai Pengarah Belajar (director of learning), guru berperan untuk senantiasa menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Dalam hubungan ini guru mempunyai peranan sebagai “motivator”, dimana seorang guru harus mampu :
a) Membangkitkan semangat siswa untuk belajar.
b) Menjelaskan secara konkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pembelajaran.
c) Memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai di kemudian hari.
d) Membuat regulasi (aturan) perilaku siswa.
 Sebagai Pembimbing Belajar (guide of learning), sebagai pembimbing dalam belajar guru diharapkan mampu untuk :
a) Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok.
b) Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar.
c) Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya.
d) Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya, dan menilai kenerhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.
Dalam mewujudkan perilaku mengajar secara tepat, karakteristik guru yang diharapkan, antara lain :
 Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkan.
 Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara cepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
 Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
 Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada siswa.
 Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya baik isi maupun metode.
 Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.
Guru akan mengajar dengan baik apabila :
 Memiliki sikap dasar yang benar dan :
1) Bertindak sebagai pembimbing dan kawan,
2) Menghindari corak hubungan yang berjarak antara pengajar dan pelajar,
3) Memahami tujuan dan kesulitan pelajaran.
Oleh karena itu, seyogianya para guru :
1) Bertemu dengan kelompok secara informal untuk mengenal mereka secara mendalam,
2) Berminat kepada siswa di samping berminat pada pelajaran.
 Memiliki sasaran yang benar dan :
1) Mewujudkan tujuan untuk mengembangkan pribadi siswa dan bukan memberikan informasi,
2) Menyadari bahwa tujuan jangka panjang adalah perkembangan optimal dan pribadi siswa sehingga tercapai kepuasan pribadi dan produktivitas kerja yang optimal.
Oleh karena itu, guru seyogianya :
1) Menyiapkan rencana kegiatan belajar,
2) Mengajar dengan sebaik-baiknya,
3) Melaksanakan rencana tersebut dengan baik.
 Memiliki informasi faktual yang diperlukan.
Oleh karena itu, guru seyogianya :
1) Menemukan, memahami, dan memilih informasi yang memadai,
2) Mempersiapkan pokok-pokok rangkuman materi, dan
3) Menghargai dan memanfaatkan penemuan siswa.
 Memahami macam-macam metode dan teknik, dan mengetahui bagaimana memilihnya.
Oleh karena itu, guru seyogianya :
1) Mampu memilih macam-macam metode dan teknik pada setiap tahap,
2) Memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mendapatkan informasi, analisis, menilai, dan menyatakan gagasan secara jelas.
 Membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut. Oleh karena itu, guru seyogianya dapat mendiskusikan masalah-masalah secara baik sebelum kegiatan belajar berakhir.
Agar guru dapat menjadi pengajar yang efektif maka hendaknya guru memiliki keunggulan tertentu dalam keseluruhan tugas dan perannya. Keunggulan-keunggulan tersebut adalah dalam hal-hal sebagai berikut.
 Keunggulan dalam mengajar, yaitu guru yang :
1) Dicari oleh siswa untuk memperoleh nasehat dan bantuan,
2) Mempunyai kecakapan sebagai pemimpin dalam mengajar,
3) Dapat menghubungkan materi dengan hal-hal yang praktis.
 Keunggulan dalam hubungan dengan siswa, yaitu guru yang :
1) Dicari oleh siswa untuk memperoleh nasehat dan bantuan,
2) Selalu kontak dengan siswa,
3) Memimpin kelompok dan kegiatan-kegiatannya, dan
4) Memiliki minat pelayanan sosial.
 Keunggulan dalam hubungan dengan pihak lain, yaitu guru yang :
1) Menunjukan kecakapan bekerja sama dengan guru lain dan pihak lainnya,
2) Tidak menimbulkan antagonis,
3) Menunjukan kecakapan untuk mandiri secara kritis, dan
4) Menunjukan kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri.
 Keunggulan dalam pencatatn dan penelitian, yaitu guru yang :
1) Mempunyai sikap ilmiah yang objektif,
2) Lebih suka mengukur dan tidak menebak,
3) Berminat dalam masalah-masalah penelitian,
4) Efisiensi dalam pekerjaan klerikal (tulis menulis), dan
5) Melihat kesempatan untuk penelitian dalam kegiatan-kegiatan klerikal.
 Keunggulan dalam sikap professional, yaitu guru yang :
1) Sukarela untuk melakukan pekerjaan ekstra,
2) Telah menunjukan dapat menyesuaikan diri, sabar, dan fleksibel,
3) Memiliki sikap yang konstruktif dan terbuka,
4) Berkemauan untuk mengembangkan pekerjaan, serta
5) Memberikan semangat dan kesediaan untuk memberikan layanan kepada siswa dan masyarakat.

4. Memahami Interaksi Guru-Siswa
Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan nampak dalam interaksi antara keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri siswa dalam bentuk tercapainya hasil belajar. Sekurang-kurangnya ada tiga hal dalam interaksi guru-siswa ini, yaitu proses belajar, metode mengajar, dan pola-pola interaksi. Agar proses belajar berlangsung efektif, para guru hendaknya memperhatikan faktor-faktor berikut :
a) Penjabaran tujuan,
b) Motivasi kepada siswa,
c) Penggunaan model,
d) Urutan materi,
e) Bantuan dalam usaha pertama,
f) Pengaturan latihan secara efektif,
g) Masalah perbedaan individual,
h) Evaluasi dan bimbingan,
i) Usaha menghafal, dan
j) Bantuan dalam aplikasi hasil belajar.
Dalam proses pembelajaran akan terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Pola-pola interaksi yang terjadi dalam proses belajar mengajar akan berpariasi tergantung pada situasi pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada empat pola interaksi yang terjadi, yaitu :
1) Interaksi individual-individual,
2) Individual-kelompok,
3) Kelompok-individual,
4) Kelompok-kelompok.
Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A.M. MacKay, tentang pembelajaran yang efektif (Lefrancis, 1991) disarankan mengenai tingkah laku untuk mengajar yang efektif, sebagai berikut.
1. Menggunakan suatu sistem aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal pribadi atau prosedur tertentu.
2. Mencegah agar tingkah laku siswa yang salah tidak berketerusan.
3. Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat.
4. Bergerak ke seluruh ruang kelas untuk mengamati siswa.
5. Situasi-situasi yang mengganggu diatasi dengan cara-cara yang baik (dengan cara nonverbal, isyarat, pesan-pesan, kedekatan, kontak mata, dsb).
6. Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas.
7. Menggunakan cara yang memungkinkan siswa melaksanakan tugas-tugas belajar arahan seminimaln mungkin.
8. Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.
9. Menggunakan cara-cara tertentu untuk mendapatkan perhatian siswa.
10. Tidak memulai berbicara kepada siswa sebelum semua siswa memberikan perhatian.
11. Menggunakan teknik-teknik mengajar yang bervariasi dan menyesuaikan pembelajaran dengan keperluan pembelajaran.
12. Menggunakan satu sistem pemeriksaan tugas-tugas.
13. Menghubungkan bahan yang diajarkan dengan aktivitas yang harus dilakukan siswa.
14. Menggunakan teknik-teknik yang memberikan kemudahan pepindahan secara berangsur dari aktivitas yang konkret ke yang lebih abstrak.
15. Menggunakan campuran pertanyaan dari peringkat yang rendah dan tinggi.
16. Menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam kelas.
17. Dapat menghadirkan lebih dari satu hal dalam satu waktu.
18. Mengatur pergantian pelajaran atau aktivitas secara mulus.
19. Memelihara jalannya arahan pelajaran dengan baik.
20. Memberikan penyajian secara jelas di dalam kelas.
21. Dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.
22. Menunjukan sikap memelihara, menerima, dan menghargai siswa.
23. Memberikan tindak balas (respons) yang memadai terhadap makna, perasaan, dan pengalaman siswa.
24. Mengarahkan pertanyaan kepada banyak siswa yang berbeda-beda dan bukan hanya kepada siswa tertentu saja.
25. Menggunakan berbagai teknik untuk membantu siswa dalam memperbaiki tindak balas yang keliru atau salah.
26. Memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa.
27. Menggunakan kritikan yang halus dalam mengkomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai.
28. Menerima inisiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan atau saran-saran.

5. Memahami Target Utama Keberhasilan Pendidikan
Pola pengembangan pendidikan yang menitik beratkan pada pembentukan nilai-nilai moral agama cendrung berkurang dewasa ini. Untuk itu perlu kiranya upaya-upaya maksimal dari berbagai pihak untuk mkenjadikan kualitas moral peserta didik dapat menjadi tolak ukur perkembangan kemajuan pendidikan nasional. Dalam hal ini ada beberapa cara yang perlu dilakukan dalam upaya pembentukan sikap nilai positif terhadap peserta didik yaitu:
1) Pola Pembiasaan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan timbul perasaa benci dari anak tersebut yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada guru dan mata pelajarannya.
2) Modeling
Pembelajaran sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses pencontohan. Salah satu karakteristik anak didik yang sadang berkembang adalah keinginan untuk malakukan peniruan (imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku – perilaku yang di peragakan atau di demonstrasikan oleh orang yang menjadi idamannya. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya. Pemodelan biasanya di milai dari perasaan kagum.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s